Semenjak buka mata di Hari Minggu pagi aku sudah menenggelamkan diriku di dapur. Belanja ayam di depan rumah, belanja sayuran di Mbak Sri kemudian di Bulik Jumirah. Pagi itu selembar Soeta sudah berganti dengan aneka sayuran hijau, tempe, tahu, udang dan ayam potong. Tak apa boros selagi aku percaya setiap lembar yang diberikan suamiku untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan aku belanjakan akan datang ke kami dengan mengajak teman-temanya. Semakin mantap dan siap 2026 aku sugeh sugeh sugeh!!!
Aku sibuk dengan kegiatan layaknya seorang ibu rumah tangga, padahal jaman gadis aku paling malas dengan pekerjaan itu karena ada Mbak Mi. Mau tidak mau ketika budhe libur, harus aku yang turun tangan karena jelas papa lebih memilih sibuk dengan burung dan pekerjaan lainnya. Lebih-lebih papa momong anak-anaknya lah.
Setelah memastikan beras ternanak dengan baiknya di rice cooker, aku lanjut memasak dan membuat stok bumbu dasar putih dan ungkepan ayam, ungkepan tahu tempe dan chicken katsu. Tentunya diserangkaian kesibukan itu akan ada part memandikan Berli, mencuci baju dengan mesin cuci, memandikan Mutiara dan selinga lainnya. Hari Minggu justru menjadi hari sibuk di dapur tetapi akan mengurangi gedebag gedebug selama tiga atau empat hari ke depan.
See... Aku anak manja ternyata jauh lebih rajin dari kamu kamu kamu yang suka nyepelein aku kan!!! Makanya jaga itu mulut!!!
Kemudian ketika menunggu ungkepan ayam, anak tengahku menghampiriku di dapur. Sebelumnya memang dia bolak-balik sekedar mengecek keberadaaku, membuka kulkas atau bahkan bermain air. Tetapi kali ini dia mendekat sambil membawa kursi kecil.
"Aku yang cuci piring ya, mah!" Kemudian dia bersiap di depan tempat cuci piring dimana saat itu terdapat beberapa piring, sendok, tempat minum dan wajan.
Aku menolak dan dia tetap menyalakan keran air sambil menuangkan sabun cuci piring diatas spons. Dia tetap bersikukuh ingin membantuku dengan alasan biar mama nggak capek. Dan aku berkali-kali menegaskan bahwa cucian piring ini agak susah.
"Nggak apa-apa, ma. Aku bisa!" Semacam menerima kenyataan bahwa mungkin dia sedang di fase ingin selalu terlibat atau bahkan dituntut mandiri karena harus berbagi kasih dengan adek Berli. Sedih tau ih 🥺🥺🥺
Akupun mengalah sambil berkali-kali memastikan kepadanya "mbot yang ini bisa?" Sambil menunjuk ke piring keramik yang sedang dia sangga. Dia mengangguk dan fokus dengan gerakan mengusap piring yang busanya banyak sekaleeeeeee. 😌
"Dek.. Itu berat wajannya. Sini mama aja, ya!" Dia menolak dan ketika aku mencoba untuk merebut spons dia berteriak dan berkaca-kaca. Sampai akhirnya aku mengalah lagi dan memberikan waktu untuk dia menyelesaikan apa yang sudah dia pilih untuk membantu mama.
Aku memperhatikan dia dalam diam. Melihat bagaimana dia fokus dengan cucian piringnya. Memperhatikan cara dia menyelesaikannya dengan gaya dia sendiri. Memastikan kursi yang dia gunakan sebagai pijakan aman dan tidak licin. Memastikan kran air ikut aku matikan selagi dia sibuk dengan busa sabun. Membantu dia meletakkan cucian yang sudah bersih ke rak piring yang dia belum bisa.
Bahkan ketika mbah koko tau dia sedang sibuk mencuci piring, aku menahannya agar tidak mengganggu fokus tiara. "Biarin mbah... Dia lagi belajar dan aku juga belajar untuk percaya ke anak!" Mbah terdiam dan ikut mengamati sampai dia selesai.
Apa yang aku pelajari?
Aku memberikan ruang untuk Tiara mencoba. Meski akan ada bagian yang tidak sepenuhnya bersih tetapi dia sudah mencoba dan tidak sepantasnya aku melarang dia. Aku tidak ingin membunuh inisiatif yang muncul di otak dia meski tetap saja aku mengawasi dengan penuh.
Bahkan aku juga latihan untuk percaya kepada dia bahwa dia pasti bisa dengan segala upayanya. Dia akan tetap bertanya ini gimana ma, nggak bisa ma. Tetapi aku akan terus mengatakan "dicoba lagi yuk.... pelan-pelan aja, ditaruh aja piringnya sambil digosok busa sabun". Selebihnya biarkan dia menyelesaikan sendiri.
Aku juga belajar adanya keterlibatan dia di rumah. Trigger banget ketika aku dulu seperti dibiarkan saja dan tahu-tahu disuruh paham urusan rumah yang harus dikerjakan anak perempuan. Bahkan ada part dimana menjadi sarana dibandingkan hanya karena anak tetangga sudah bisa mencuci bajunya sendiri. Sakit banget dibanding-bandingin dan aku tidak mau anakku seperti itu.
Karena dulu belum ada budhe dan hanya ada ibuk yang membantu mengasuh anak-anak ketika aku mengajar. Urusan rumah aku dan papa yang handle sambil momong mbak Intan. Mau tidak mau anak sulungku juga akrab dengan dapur. Bahkan di kelas 2 SD dia sudah berani menggoreng telur mata sapi sendiri. Tak lain karena keadaan meminta begitu dan berlanjut ke adek-adeknya.
Melihat Tiara siang itu memang rasaku campur aduk. Aku tidak mau niat dia terlibat menjadi larangan yang dapat membuat matanya berkaca-kaca lalu menangis dalam diam. Aku juga tidak ingin dia merasa tidak diakui keberadaannya. Dan aku juga tidak akan membuat dia menjadi anak yang tidak paham dengan basic life skill. Berlian pun juga akan aku didik seperti itu meski dia anak laki-laki. Karena aku selalu meyakinkan diriku bahwa aku dapat mempersiapkan sebuah peradaban baru melalui anak-anaku.
See... Anak kecil yang selalu di cap nakal oleh banyak orang justru jauh lebih serius mendidik anaknya. Jadi tolong kondisikan mulut-mulut kalian!

.png)


0 comments
Silahkan tinggalkan jejak di blog guru kecil ya. Mohon untuk tidak memberikan LINK HIDUP dalam kolom komentar. Jika memang ada,komen akan di hapus. Terimakasih;)