Daripada ngasih nasehat yang sebenarnya tidak kita butuhkan pada saat itu. Kok nasehat sih, malah yang ada semacam peringatan ke kita untuk menerima kejadian yang suatu saat akan kita hadapi seperti teman yang orang lain ceritakan.

Mungkin nih ya... orang yang kayak kurang ada greget atau ambisi untuk saat ini adalah aku. Iya aku, dan aku tidak menunjuk kepada orang lain. Karena "yang penting sudah berani mencoba" itulah kalimat yang pada akhirnya keluar dari mulutku. Juga dari mbakku yang meyakinkaku siang itu sepulang dari tes wawancara makalah Bakal Calon Kepala Sekolah Non Reguler.
Lantas kenapa ikut? pertanyaan itu selain masuk ditelingaku juga aku baca sendiri dari percakapan temanku. Dan aku akan menjawab ya karena diberikan kesempatan bu kepsek untuk mencoba. Bu Ike meminta untuk "wes to... nggak ada salahnya mencoba. Mumpung ada kesempatan, kan?!". Padahal semangkuk soto ayam di hadapan beliau menanti untuk segera disantap. Sementara beliau terus meyakinkanku dan merekomendasikan nama guru lain di SD ku untuk maju di seleksi ini.
Jalanan Jogja masih seperti biasa. Selalu ramai namun hujan rindu dengan suasana Jogja selalu menjadi candu. Menyusuri trotoar pinggiran titik nol kilometer, panas pun tak ku rasa. Berjalan kaki dengan rombongan ranger pink menuju Malioboro. Entah akan kemana para ranger pink itu yang jelas sekitaran Malioboro menjadi tujuan menghabiskan saldo rekening sebelum nanti klunting lagi.
Semenjak buka mata di Hari Minggu pagi aku sudah menenggelamkan diriku di dapur. Belanja ayam di depan rumah, belanja sayuran di Mbak Sri kemudian di Bulik Jumirah. Pagi itu selembar Soeta sudah berganti dengan aneka sayuran hijau, tempe, tahu, udang dan ayam potong. Tak apa boros selagi aku percaya setiap lembar yang diberikan suamiku untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan aku belanjakan akan datang ke kami dengan mengajak teman-temanya. Semakin mantap dan siap 2026 aku sugeh sugeh sugeh!!!




.png)

