Rotiboy Yang Seharusnya Untuk Ibu

By Chela Ribut Firmawati - February 21, 2026

Jalanan Jogja masih seperti biasa. Selalu ramai namun hujan rindu dengan suasana Jogja selalu menjadi candu. Menyusuri trotoar pinggiran titik nol kilometer, panas pun tak ku rasa. Berjalan kaki dengan rombongan ranger pink menuju Malioboro. Entah akan kemana para ranger pink itu yang jelas sekitaran Malioboro menjadi tujuan menghabiskan saldo rekening sebelum nanti klunting lagi. 




Dari rumah sudah kuniatkan untuk tidak berbelanja di Pasar Beringharjo, namun gema suara anak-anak sejak kemarin malam mengganggu di telingaku. 

"Mama... Belikan aku celana gambar gajah lho!" 

"Mama... Aku juga sama kayak mbak Intan!" 

Ya sudah... Dari pada mengecewakan, aku menurunkan egosentrisku untuk membeli apa yang anak-anakku minta sebagai apresiasi karena bersedia mengijinkan mamanya sehari untuk bepergian. Juga sebuah hadiah untuk papa yang bersedia menjaga anak-anak di rumah selagi aku berlibur dan menghabiskan uang. 😎

Panasnya Jogja siang itu memang tetap sama saja. Selalu membuat rindu untuk dikunjungi lagi dan lagi. Akupun berjalan mengikuti kemana rombongan melangkahkan kaki. Dan Pasar Beringharjo lah yang menjadi tujuan mereka termasuk aku. Yang penting masuk ke pasar aja dulu. Batinku. 

"Buk.. Tasnya taruh depan saja, rawan copet!" Sapa salah satu pedagang. Ibu-ibu paruh baya itu mengingatkanku dan akupun berterimakasih karena sudah diingatkan. 

Dan langkah kakiku berhenti di salah satu kios. Lihat-lihat dulu saja laaaah. Eeh ternyata... Aku tergiur juga tawaran mbaknya dengan 100 ribu dapat 3 baju. Okelah... Pas untuk Intan, Mutiara dan Berlian. Oke stop... Aku tidak berniat untuk belanja lagi tetapi Bu Utami masih semangat sekali menyusuri pasar ini dan mengeluarkan berlembar-lembar soeta itu.

Sambil menunggu aku memutuskan untuk jalan ke luar dan menyusuri panasnya malioboro. Mencari outlet Rotiboy. Bersama dengan Nisa anak dari penjaga sekolahku, aku berjalan melewati berbagai toko yang tak kalah ramai. Heran aja ya, in this era kenapa orang-orang banyak duitnya sih? Hahaha. 

"Panas ya, Sa. Dan kayaknya cuma kita aja nih yang jalan sampai jauh!"  Celetukku sambil sibuk merekam suasana malioboro di siang hari. 

"Tenang, bu! Kalau ada orang pakai baju warna pink fucia berarti itu rombongan kita!" Kelakarnya. 

Kita tertawa kompak dan tak lama kemudian aku menemukan outletnya dengan nuansa kuning. "Sa, itu Rotiboy!! Ayo nyebrang, Sa!" Teriakku. 

Rotiboy Yang Seharusnya Untuk Ibu



"Mas.. Beli 8 ya!" 
Sambil aku menghirup aroma khas rotiboy. Aroma kopi bercampur keju dan aaahh adalah pokoknya. Nisa yang sejak tadi menemaniku terheran dengan sendirinya kenapa kok belinya banyak sekali. 

Dua potong aku berikan untuk Nisa coba dan sisanya aku bawa saja gitu di plastiknya. Aku tenteng sambil berjalan kaki dan bercerita ke Nisa. 

"Sa... Ini roti kesukaan mendiang ibuku. Dan kamu tau, aku pernah berjanji kalau akan beliin ibuku roti ini setelah aku kuliah PPG. Tapi... Ibuku malah pergi, Sa! Selamanya pula perginya!" 

"Lha beli banyak ini buat apa, Bu?" Tanya Nisa. 

"Untuk menuntaskan hutangku, Sa. Menepati janjiku meskipun roti ini tidak dimakan ibuku. Setidaknya aku makan roti ini dengan kenangannya. Aku makan roti ini sambil lihat nanti Intan, Mutiara, sama Berli pada senyum sambil bilang makasih mama.  Masa iya aku bawa ke makam ibuku sih, Sa!" Jawabku sambil sedikit menahan air mata. 

Aku dan Nisa kembali melangkahkan kaki untuk mencari dimana keberadaan Bu Darto dan Bu Utami. Mereka ternyata menunggu di depan sebuah toko sambil menikmati jajan yang dibeli. Dan kami melanjutkan perburuan jajan di sekitaran pasar Beringharjo. Sampai akhirnya dua porsi sate ayam kami beli dan es kopimik untuk mengganjal perut yang lapar ini. 

Lalu di bus saat menuju ke Obelix, aku membuka satu bungkus Rotiboy dan memakannya bersama dengan Bu Ut. "Mi... Anggap aja aku lagi maem roti ini sama ibuk, ya!" 

Untuk janji yang belum aku tepati, rasanya mengucap maaf tidak akan pernah bisa membuat lega. Untuk menepati pun juga bingung harus bagaimana. Melanjutkan hidup tanpa ibu dan meninggalkan sebuah janji yang belum bisa kutepati saat itu rasanya sangat berat. Maaf ibu... Rotiboy itu selalu aku nikmati dengan rasa sesak di dada bahkan air mata. 

  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Silahkan tinggalkan jejak di blog guru kecil ya. Mohon untuk tidak memberikan LINK HIDUP dalam kolom komentar. Jika memang ada,komen akan di hapus. Terimakasih;)