Mungkin nih ya... orang yang kayak kurang ada greget atau ambisi untuk saat ini adalah aku. Iya aku, dan aku tidak menunjuk kepada orang lain. Karena "yang penting sudah berani mencoba" itulah kalimat yang pada akhirnya keluar dari mulutku. Juga dari mbakku yang meyakinkaku siang itu sepulang dari tes wawancara makalah Bakal Calon Kepala Sekolah Non Reguler.
Lantas kenapa ikut? pertanyaan itu selain masuk ditelingaku juga aku baca sendiri dari percakapan temanku. Dan aku akan menjawab ya karena diberikan kesempatan bu kepsek untuk mencoba. Bu Ike meminta untuk "wes to... nggak ada salahnya mencoba. Mumpung ada kesempatan, kan?!". Padahal semangkuk soto ayam di hadapan beliau menanti untuk segera disantap. Sementara beliau terus meyakinkanku dan merekomendasikan nama guru lain di SD ku untuk maju di seleksi ini.
Dan surat rekomendasi mengikuti seleksi itu langsung beliau sodorkan di mejaku setelah urusan soto menyoto dan Mas Pardi selesai. "Wah... tenanan ik!" seruku kepada beliau. Ndak sopan tapi begitulah responku selagi aku melihat kolegaku masih dalam mode bimbang antara ikut dan tidak.
"Ikut ya, mah. Dicoba!" Pesan singkat di whatsapp siang itu juga. Dan beliau juga yang mengusulkan pembuatan SKCK online. Dasar aku istri manja, urusan yang bisa dia handle ya sudah pasrah aja. Karena aku tidak ingin membuatnya kecewa lagi karena di seleksi BCKS sebelumnya aku batal melengkapi berkas karena "belum selesai dengan diri sendiri". Paham kan?
Gedebag-gedebug Melengkapi Berkas Administrasi
Aku lupa berkas apa saja yang aku siapkan saat itu. Yang pasti aku mengisi blanko dimana tertuliskan pengalaman administrasi dan pengalaman lainnya. Apa saja aku cantumkan kecuali menjadi bendahara BOSP yang mana ketika berkas ku serahkan kepada mas Arif korwil, beberapa kepala sekolah menanyakan pengalaman manajerial itu. And aku ndak punya. hihihi.
Pokoknya melengkapi selagi ada dan selebihnya ngalir aja. Begitu keputusanku sambil tetap bismillah. Karena juga mikirnya...
"ah.. yang jauh lebih layak daripada aku juga buanyak!"
"aku sadar aku hanya PPPK yang golongannya baru setara 3a. Jadi ya ramein aja acara ini!"
"yaa... kalau lolos yang lanjut bikin makalah, kalau tidak juga nggak masalah."
Bukan bermaksud membuat hatiku lega atau bagaimana. Memang begitulah adanya karena sedari awal aku tidak berekspektasi lebih. Ikut aja gitu. Nothing to lose.
Hidupku se woles itu ternyata sekarang ini. Hahaha.
Demi apa lolos administrasi?
Tapi ya sudah... Bikin aja makalahnya!
Untuk momen ini memang aku lebih banyak merasa kurang percaya diri karena sejak awal aku belum begitu mantab untuk ikut. Takut jika nanti aku gagal, takut jika aku tidak bisa melaksanakan tugas dengan baik, takut dengan penolakan keluarga disaat aku belum bisa memenuhi harapan orang tua. Dan berkali-kali papa meyakinkan, apapun hasilnya yang penting sudah dicoba. Dan berkali-kali aku menangis dipelukannya. Secengeng itu sebenarnya. Bahkan ketika tes wawancara juga ditemani sampai selesai untuk sekedar menguatkanku. Meskipun kamu sering menyebalkan, terimakasih sudah selalu di sampingku saat aku tantrum, ngereog, mode anteng, kalem, manja dan apa aja wes.
Ya Udah.. Nggak Apa-apa Kok Kalau Gagal!
Well... Selesai tes wawancara itu memang ada momen cukup mendebarkan di rumah karena bapak ngedrop. Astaga... Laki-laki tua yang manjanya ngalahin Berli itu memang ada aja gebrakannya. Kurang minum air putih padahal hari sebelumnya beliau puasa sunah hari Kamis. Alhasil gliyengan dan agak dehidrasi. Seperti biasa, dua malaikat cantik yang satu mode galak dan satunya mode cuek itu merepet ke bapak karena susah di bilangi.
Lalu ada momen dimana bapak menanyakan "piye nduk... Tes e?" Hmmm.... Aku hanya menjawab "ya gitu pak. Dijawab meskipun ada plegak-pleguknya". Dan mbak nyamber.... " Udah yakin dan manteb, dek?" Baru juga dia ngomong gitu aku sudah nangis.
"Aku kalau gagal, gapapa ya mbak!" Sebuah kalimat yang aku ucapkan ke dia. Dan banyak sekali pesan yang dia sampaikan saat itu. Pada akhirnya aku merasa beban yang ada di pundakku selama ini seperti terangkat siang itu juga bersamaan dengan pesan dari mbak.
"Nggak masalah kok kamu tetap jadi guru. Selagi kamu bisa menemukan plus minusnya dimana klo dibandingkan dengan posisi kepala sekolah!"
"Gagal juga gapapa... Yang penting ini adalah pengalaman berharga buat kamu. Kamu bisa mengukur seberapa jauh kemampuan kamu."
"Kalau belum layak ya sudah. Nanti pasti orang juga akan tau dan mengakui kemampuan kamu. Yang ada dijalani saja!"
"Kamu gagal mbak nggak kecewa. Begitu juga bapak. Aku minta nggak usah memaksakan kehendak ke anak. Dia punya jalannya sendiri. Nanti kalau sudah waktunya pasti akan moncer juga adikku."
Haissshh.... Nangis dah!
Dan rasanya memang pundak ini menjadi lebih enteng setelah mbak bilang begitu di depanku juga bapak. Aku merasa dia juga mengakui kemampuan adiknya yang bebal ini, hanya saja dia jauh lebih menyarankan untuk menata kehidupanku dan keluargaku terlebih dulu dibandingkan mengejar karier. Ya masuk akal juga selagi kedepan ada kesempatan kan bisa dicoba lagi.
Itulah mengapa aku memang merasa bingung ketika pengumuman perankingan dan memberikan ucapan selamat. Keterangan lolos atau tidak juga belum ada, kenapa banyak diantara mereka mengatakan "bu KS nih!" Bahkan hanya karena rambut aja sampai-sampai membawa kalimat "kamu bu KS lho!" But why? Mending kalau bicara sesuai realita saja sih kalau kata aku. Daripada kalian yang haus validasi diakui sebagai bu KS padahal jg SK aja belum ada harus bawa orang lain. Bermainlah secara elegan karena orang akan menilai dengan sendirinya, kok.
Iya memang kalau nggak pengen jadi KS kenapa ikut? Kan ada toh istilah loyal terhadap atasan, artinya jika diperintah atasan dan mampu tidak ada salahnya menjalankan perintah atasan. Dengan mengikuti ini juga aku tahu sejauh mana kemampuanku. Bukan nggege mangsa, tetapi memang sepenuhnya mencoba tantangan baru. Setidaknya aku bisa menakhlukan rasa takut dan ragu terhadap diriku sendiri. Dan terbukti kan, aku mampu melewatinya. Anaknya kurang yakin aja sih ini! Hahaha. Yang jelas tidak ada salahnya mencoba bukan menjadi satu hal yang dipermasalahkan. Karena dengan memilih berani mencoba itu artinya siap menghadapi tantangan dan resiko yang akan ada.
Jadi gimana, beneran jadi KS? Hahaha... Kalau kata aku sih enak jadi guru, deh!
![]() |
| Cheers dulu karena sudah berani melawan rasa takut! |




.png)


0 comments
Silahkan tinggalkan jejak di blog guru kecil ya. Mohon untuk tidak memberikan LINK HIDUP dalam kolom komentar. Jika memang ada,komen akan di hapus. Terimakasih;)