Mendingan Kasih Ruang Untuk Berduka daripada ....

By Chela Ribut Firmawati - March 08, 2026

Daripada ngasih nasehat yang sebenarnya tidak kita butuhkan pada saat itu. Kok nasehat sih, malah yang ada semacam peringatan ke kita untuk menerima kejadian yang suatu saat akan kita hadapi seperti teman yang orang lain ceritakan. 



"Harus siap lho kalau nanti bapakmu minta menikah lagi!" 

(Sengaja digedein font nya biar yang pernah ngomong begitu orangnya sadar dan insaf) 

Disaat tubuh ibu baru saja aku mandiin bersama mbah modin. Disaat aku harus merelakan tidak melihat ibu sebelum kain ihram dan kafan menutup tubuhnya. Sebelum aku memberikan ciuman terakhir ke ibu dan harus merelakan untuk berpisah secara fisik. 

Aku saat itu sedang berduka, lho. Bahkan meregulasi emosi yang aku rasainpun juga masih bingung, yang rasanya beneran ini terjadi? Beneran ibuku meninggal? 

Eh lhaa.. Kok udah dapat perkataan begitu bahkan dari saudara sendiri. Belum juga kubur ibuku kering sudah ada cerita buruk tentang bapakku. Duka ternyata sesakit ini dan mulut orang-orang itu ternyata jahat banget, ya. 

Pada akhirnya aku menulis yang selama ini aku pendam karena melihat belakangan ini rasa empati orang tuh nggak ada. Ada tapi sebatas basa-basi aja. Apalagi kita juga disuguhi berita duka kan ya belakangan ini. Lula Lahfah dan Vidi Aldiano. Asli.. Ditinggal mati itu benar-benar bikin hatimu patah dan nggak ada obatnya. Lukanya seumur hidup bahkan sampai kita mati. 

Yang aku kesel adalah... Iya sih publik figur yaaa tapi kok bisanya wartawan gitu nanya "gimana perasaannya kak?" Lhaa.. Matamu!! Yo mesti sedih!! Nggak ada lho orang yang seneng dan bahagia ditinggal mati. Karena kematian itu memang perpisahan yang selalu menyakitkan. Lha masih aja nanya kabar, jelas lah berduka anjay!! 

Pun sama ketika orang datang lalu bilang "kamu yang sabar yaa... Pasti bisa kok!"  Itu tuh kalimat yang nggak perlu!!! Karena apa?? Karena memang kita tuh lagi sedih ya dan mau bilang sampai bibirmu berbusapun juga nggak akan didengarkan. 


Mesti bagaimana sih? 

Nggak mesti gimana-gimana. Cukup datang (jika memang bisa melayat) kemudian udah duduk aja. Salaman dan berikan validasi perasaannya. Udah nggak usah ngasih nasehat apapun. Mereka orang yang berduka tidak butuh nasehat dulu pada saat itu. Bahkan kalimat peringatan "siapin mentalmu nanti bapakmu minta nikah lagi!" tuh rasanya pengen tak lempar cobak mulutnya. 

Hadirlah dengan mindfull, kuatkan dengan cara kalian tanpa harus banyak kata, dan berikan ruang untuk menikmati duka yang sedang dihadapi tanpa harus menghakimi mendiang semasa hidupnya. Kalaupun ingin menghibur, ceritakanlah kenangan baiknya. Dan nggak usah membandingkan duka yang sudah pernah kamu rasakan. 

Setidaknya berikan empati kepada mereka yang berduka. Meski kadang juga ingin kepo untuk mengetahui kronologi kematiannya. Setidaknya tahan diri agar tidak menyakiti perasaan orang lain gitu lho. 

Tapi kan... Ini zamannya apa aja dikontenin dan dikomenin jadi wajar lah yaaa.. Ah... Terserah, tapi kalau aku jauh lebih memilih nggak usah banyak kepo. Karena ditinggalkan orang yang kita cintai itu sakitnya luar biasa sampai kapanpun. 


Kalian tidak harus setuju dengan apa yang aku tulis, kok. Karena setiap orang punya respon masing-masing dalam menghadapi duka. Apapun itu, terimakasih sudah membaca. 


  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Silahkan tinggalkan jejak di blog guru kecil ya. Mohon untuk tidak memberikan LINK HIDUP dalam kolom komentar. Jika memang ada,komen akan di hapus. Terimakasih;)