Ada deeptalk di sepanjang Jalan

By Chela Ribut Firmawati - April 22, 2026

 


Kapan terakhir motoran sama mbak? Seingatku ketika dia masih menjadi staf di kantor dinas kesehatan yang lokasinya dekat dengan SMP ku. Dijemput pulang sekolah lalu aku minta dijajanin bakso Mbah Gito. Primadonanya bakso di Purwodadi saat itu. Setelahnya aku tidak ingat lagi kapan motoran berdua. Nggak tahu deh kalau dia. Hahaha. 


Lalu kemarin saat kami pergi njagong ke rumah saudara. Rasanya tidak tega dia pergi sendiri sementara aku masih juga belum mandi. Berawal dari celetukan "lha piye njagong berdua aja?" trus mbak mengiyakan dan bapak pun mengambil alih gagang sapu yang sedang kubawa. "Wes sana berdua sama mbakmu!" dan sebelum pergi bapak sempat mengabadikan kebersamaan kakak adik ini di hp pintarnya meski hasilnya rada ngeblur. Begitulah khasnya generasi boomers, tapi dia terlihat sumringah setelah memoto kami. 

Seperti biasa di perjalanan memang mbak yang mengambil kendali penuh motor fazionya. Aku cukup di belakang sambil pegangan perut endutnya. Memang dasar ya si bungsu ini masih saja merasa anak kecil ketika bersama mbaknya.  Tak banyak obrolan yang ada tapi tetap saja obrolan itu terasa sangat dalam. 

Obrolan kami seputar bapak dan dramanya. Capek tapi begitulah yang harus kita hadapi karena orang tua kita tinggal bapak saja. Yaa... memang harus banyak sabar dan mencoba melihat dari berbagai sudut pandang. Karena begitulah adatnya dimana orang tua memang mintanya selalu benar. Dan ternyata mbak juga ingat pesan ibu kepadaku juga bahwa kami berdua harus rukun. Meski kadang "pahitnya brotowali" harus aku telan, yang ada aku selalu minta dikasih sabar banyak-banyak sama Tuhan. 

Dan... pesan itu dia katakan di sepanjang jalan...

Bahwa menjadi perempuan itu memang tidak pernah mudah. Apa yang sudah aku raih dan mbak juga merupakan cita-cita ibu. Kedua anak perempuannya harus bekerja, harus mandiri dan bisa cari uang sendiri. Namun, mbak bilang bahwa dimanapun perempuan bekerja pasti ada godaanya. Harus kuat mental dan fokus dengan tujuan kita. Jangan sampai tergoda karena sekalinya tergoda akan rusak semuanya. 

Aku paham maksud mbak dan tidak sepatah katapun aku menjawab. Aku menyimaknya dengan sangat seksama. "Sing ati-ati nek ngendi wae, sing apik nek karo kancane. Godaane wong wedok kui akeh. Pokoke nggak usah ditanggapi. Iling anak-anak apa maneh anakmu telu. Terus ojo lali ndonga karo Gusti Allah. Piro wae sing mlebu nek rekeningmu mbuh kui gaji, sertifikasi atau laine ojo lali disyukuri karo sedekah juga. Soal masa depan anak-anak yakin wae mesti iso soale anak gawa rejekine dewe-dewe!" Dengan tetap melaju  motor fazio itu, mbak dan adek ini melakukan adegan yang bisa dikatakan sangat langka dan menjadi kesan selain buku tulis bersampul cokelat dulu. 

  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Silahkan tinggalkan jejak di blog guru kecil ya. Mohon untuk tidak memberikan LINK HIDUP dalam kolom komentar. Jika memang ada,komen akan di hapus. Terimakasih;)