Aku sih yakin ibuku nggak mungkin baca ini, tapi ya gapapa juga yang penting aku menulis ini. Di sana kan juga nggak ada internet, toh. Tapi aku yakin ibuku paham banget yang selama ini aku rasain. Terlebih hari ini adalah hari dimana orang-orang merayakan Hari Ibu. Filosofisnya entah bagaimana yang jelas 22 Desember adalah peringatan Hari Ibu dan ya.... banyak yang berlomba-lomba memberikan hadiah kejutan untuk ibu bahkan ibu dari anak-anaknya.
Tapi, aku tak merayakan momen hari ibu sejak dulu. Tak pernah ada yang spesial, dan itu terbawa saat sudah menjadi ibu dari ketiga anakku. Entah aku lupa ucapan hari ibu dari suamiku pernah atau tidak aku terima dari mulut manisnya. Yang jelas ku ingat ketika dulu bapakku pernah menanyakan momen hari ibu aku akan memberikan kado apa untuk ibuku, hanya ku jawab cukup menjadi anak yang lebih berbakti buat ibu dan peka. Itu sudah cukup.
Toh... Ibuku tidak pernah menuntut apapun dari kedua anaknya. Beliau tidak pernah menuntut dibelikan ini dan itu. Beliau tidak pernah menuntut dibawakan ingkung lengkap dengan lauknya, sayuran satu tas besar, emas permata atau apalah itu. Ibuku... Orang yang paling nrimo dan bagi beliau anak yang berhasil sesuai yang dia cita-citakan adalah segalanya. Sudah cukup bagi ibu.
Paling ibu hanya meminta :
"Belikan es dawet ya, la!"
"Itu lho beli bakso bakar limaribu aja, la!"
"Ibu mau jajan kayak punya Intan, satu aja cukup, la!"
Bahkan ketika aku permah suatu saat pulang sekolah dan menyodorkan satu buah gamis bermotif bunga yang cantik seharga tidak sampai seratus ribu. Beliau akan rewel seharian penuh.
"Beli kayak gini pakai uang darimana, la?"
"Nanti uangmu habis to, la!"
"Bahane apik, la. Tapi nanti piye bisa buat belanja nggak kok dipake buat beli gamis?"
Ibuku... Seperti itu..
Hanya saja satu janji yang belum bisa aku wujudkan adalah "Sekolah PPG nya dah selesai, ke Semarang ya la beli roti sing kayak biasanya!". Roti Boy kesukaan ibu.
Ketika kalian sibuk memesan buket bunga, buket uang, buket antam atau apalah itu untuk ibu kalian, disini aku hanya duduk terdiam. Menatap foto ibu yang sangat aku sukai. Foto ibu berkebaya hijau dengan sanggul Jawanya. Cantik. Sambil aku berbisik... Ibu lihat kan... Aku bisa beliin ibu apa aja tapi ibu sudah nggak ada. Bawa bunga juga ibu nggak pegang bunganya, kan. Bawa air mawar juga nggak bisa ibu rasakan juga harumnya, kan?.
Ibuku tidak pernah sekalipun datang di mimpiku. Tapi aku selalu merapalkan doa untuk ibu disetiap waktu aku ingat. Aku juga jarang ke makam ibu meski sering aku lewati, karena aku ternyata serapuh ini saat duduk menatap pusara ibu. Lubang di hati ini tidak kunjung tertutup. Mungkin akan terus menganga dan tidak bisa diobati, hanya legowo yang bisa terus aku upayakan.
Selemah itu aku tanpa ibu. Dan setelah kehilangan baru aku sadari bahwa ibu adalah bagian terpenting dalam hidupku. Ketika kalian masih memiliki arah hidup, aku sudah kehilangan itu semenjak ibuku pergi. Dan sampai detik ini tidak ada yang bisa menggantikan itu. Pun dengan ibu mertuaku. Entahlah... Hanya ibu.. Ibu.. Dan ibu.
Ibu tidak membacanya, tetapi ibu pasti tahu bahwa aku sangat menyayanginya. Bahkan aku yakin dengan tidak pernah datang menengokku ibu menganggap anak bungsunya ini sekuat baja. Tapi, aku bisa menangis sampai dadaku sesak kemarin ketika diminta menyanyi lagu untuk ibu. Bahkan sebelum lombapun aku sudah menangis.
Selamat hari ibu, buk. Jika ada kehidpan lagi, jadilah ibuku sekali lagi. Meski SD saja tidak lulus, meski ibu menjadi ibu rumah tangga dan petani, meski ibu harus berjuang dengan KDRT dan perselingkuhan selama hidupnya, tapi pengorbanan ibu adalah segalanya.
Sabar seperti ibu. Kuat seperti ibu.

.png)


0 comments
Silahkan tinggalkan jejak di blog guru kecil ya. Mohon untuk tidak memberikan LINK HIDUP dalam kolom komentar. Jika memang ada,komen akan di hapus. Terimakasih;)