Tiba-tiba aja gitu ibu ketua dabinku mengabarkan lewat whatsapp agar aku ikutan bergabung di event yang diadakan oleh Disdik Grobogan. Event yang sebelumnya sudah aku dengar namun aku lebih memilih untuk mengikuti Bimtek di Dinarpusda. Bukannya apa, karena aku hanya ingin berjalan lebih pelan saja kali ini. setelah rangkaian guru penggerak kemarin rasanya aku hanya ingin menjadi seorang guru biasa yang datang, ngajar kemudian pulang. Gebrakan lainnya ya ikut Bimtek Kepenulisan Konten Budaya Lokal itu saja, sih.
Lalu karena ada WA yang berisi perintah mengikuti acara ini dimana guru diminta untuk menulis buku. Antara maju kena mundur kena. Maju kok rasanya malas aja gitu 😌 sedangkan kalau mundur kok jadi anak buah gini amat diperintah nggak mau. Hahaha. Dasarnya juga Bu Yun yang sudah paham betul karakterku. Ketika ada kalimat "pokoke kamu harus manut sama mbok Yun!" ya sudah lah... Aku bisa apa selain....
.... Bingung! Ya bingung karena mau menulis apa. Mana nantinya tulisan itu dibukukan. Antara ragu dan kurang percaya diri apakah tulisanku layak dibaca atau engga. Lalu apa yang harus kutuliskan sementara aku biasanya menulis yang ringan-ringan saja. Nulis agak berat juga karena selain kerjasama brand juga lewat lomba-lomba ngeblog. Itu saat blog masih hype. Sekarang jujur aja buat perpanjang domain mesti mikir berkali-kali juga karena blog tidak semenghasilkan dulu.
Kebingungan masih berlanjut, pun ketika bertemu dengan yang sudah mengirim naskah ke panitia. Ada yang membuat puisi, tapi aku bukan pujangga yang pandai merangkai kata. Kumpulan pantun, aku takut pamor Jarjit aku kalahkan. Cerita bergambar kok sudah banyak. Ya sudah, aku ingat buku Kambing Jantan karya Raditya Dika yang dulu pernah kubaca. Aku berniat membuat tulisan ringan, receh eh siapa tau juga ada manfaatnya buat yang baca.
Kumulai Untuk Menulis Naskahnya...
Kurang lebih dua minggu waktu untuk mengumpulkan naskah ke ibu pengawas. Ternyata aku belum juga memulai karena memang belum ada mood menulis. Tapi aku juga memikirkan konsep buku yang akan aku tulis nantinya. Dan lucunya covernya sudah jadi terlebih dulu. Emang seaneh itu aku orangnya.
"Biasanya tuh cover mah nanti dulu setelah isi bukunya jadi. Lha kamu??? Aneh memang!" Begitulah komen dari salah seorang temanku bertumbuh.
Setelah covernya jadi, aku mulai memilih judul bukunya. Apa ya yang bagus. Jadi konsepnya buku itu ada bagian dimana menceritakan aku yang memang tidak bercita-cita jadi guru. Pengalaman pertama jadi honorer, lalu berjodoh dengan sesama guru. Terdapat juga part momen nelangsa menjadi honorer karena gajinya, juga beberapa part lainnya tentang kelas, anak, perjalanan meraih NIP dan S.Pd., Gr. Ditambah dua tulisan yang pernah menjadi juara saat kontes blog dan terpilih saat Wardah Inspiring Teacher 2024 kemarin.
Ya sudah lah... Eksekusi saja butuh waktu seminggu karena memang di rumah seperti nggak ada waktu untuk memegang laptop. Dan tanggal 4 Oktober 2025 naskah sudah jadi deh.
Ternyata Salah Kirim Naskah
Aku ingat betul ketika tanggal 4 Oktober 2025 pukul 11:35 wib naskah sudah beres. 50 halaman sudah aku penuhi seperti persyaratan yang diberikan oleh panitia. Lalu, aku konfirmasi ke Bu Yun selaku ketua dabin dan kulampirkan naskahku.
Oke beres, besok tinggal piknik ke Mbah Marijan. Batinku bergumam
Hari-hari berlalu sambil kucoba untuk menanyakan berapa lama prosesnya. Namun, aku mencoba konfirmasi ke panitia yaitu Pak Dona tentang bukuku. Ternyata belum masuk ke panitia. Padahal sudah di tanggal 16 November dan agendanya ketika tanggal 1 Desember nantinya acara launcing bersama dengan pemecahan rekor muri. Wah... Gimana donk ini.
Aku mencoba konfirmasi ke panitia dan bu Indar belum menerimanya. Kemudian aku mencoba konfirmasi ke Bu Yun. "Sudah kamu kirim ke Bu In belum, nduk?" Lantas kubuka riwayat chat ku kepada Bu In dan DHUARRRRRRRRR!!!! Belum ada kiriman naskah ke beliau!
Dengan segala upaya aku sampaikan permohonan maafku ke Bu Yun, juga merayu Pak Dona untuk mengupayakan agar naskahku bisa segera beres. Kulunasi juga tagihan untuk biaya terbit QRSBN dan cetak bukunya. Sambil terus berdoa agar ketika tanggal 1 Desember nantinya di Alun-Alun Purwodadi aku sudah membawa buku hasil karyaku.
Fomo juga lah, masa engga sih? Hahaha.
Sampai pada hari H di momen upacara HUT Korpri dan Peringatan hari guru nasional, bukuku belum juga beres namun aku tetap fomo dengan membawa cetakan sampulnya saja. Hahaha.
Jadi berapa kocek yang aku keluarkan untuk Gema Rusa Menuku ini?
Biaya ke penerbit : 450.000
Slempang AGPG : 60.000
Belum termasuk biaya ngopi dan jajan waktu penulisan naskahnya sih itu. Tapi bukan jadi masalah, karena ketika bukuku ini lahir, aku seperti punya monumen. *halah.
Dan tahu nggak sih, pulang dari kegiatan itu, energiku kayak habis dan istirahatnya sampe tiga hari lho karena nggak tau ya. Aku introvert sih sekarang.




.png)


0 comments
Silahkan tinggalkan jejak di blog guru kecil ya. Mohon untuk tidak memberikan LINK HIDUP dalam kolom komentar. Jika memang ada,komen akan di hapus. Terimakasih;)